Ditulis oleh : Ummu Nabhan
Para salaf,
pendahulu umat ini sangat memahami betapa berartinya Ramadhan. Segala kebaikan,
keutamaan serta berkah berkumpul di dalamnya. Sehingga mereka yang tahu sifat
dan keutamaan Ramadhan akan bersiap menyambut dengan berbagai amal kebajikan,
agar memperoleh keberuntungan yang besar. Dan mereka tak akan berpisah dengan
Ramadhan, kecuali ia telah menyucikan ruh dan jiwanya.
Sebagaimana
firman Allah,
“Sungguh
beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu.” (Asy-Syam: 9)
Sungguh sangat
merugilah orang yang tak peduli pada Ramadhan, menyia-nyiakan kehadirannya,
padahal antara waktu siang dan malamnya dipenuhi kebaikan dan keberkahan.
KEUTAMAAN RAMADHAN
Telah
disinggung di atas bahwa bulan Ramadhan memiliki banyak keutamaan. Di antaranya
dalam Ramadhan terdapat tiga macam ibadah yang sangat agung, yaitu puasa, zakat
dan qiyam (berdiri untuk shalat). Namun selain tiga ibadah tersebut, masih
banyak amalan-amalan lain yang bisa pula kita lakukan selama Ramadhan.
Banyak ayat
dalam al-Quran yang menganjurkan orang berpuasa. Sebagaimana firman Allah,
“Hai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atasmu berpuasa, sebagaimana telah
diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah:
183)
“Dan berpuasa
itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (Al Baqarah: 184)
“Sesungguhnya
kaum muslimin dan muslimat, kamu mukminin dan mukminat, orang-orang yang taat
laki-laki dan perempuan, orang-orang yang jujur laki-laki dan perempuan,
orang-orang yang sabar laki-laki dan perempuan, orang-orang yang suka
bersedekah laki-laki dan perempuan, orang-orang yang suka berpuasa laki-laki
dan perempuan, orang-orang yang memelihara kehormatannya laki-laki dan
perempuan, orang-orang yang suka menyebut-nyebut nama Allah banyak sekali, laki-laki
dan perempuan, maka Allah menyiapkan untuk mereka ampunan dan pahala yang
besar.” (Al-Ahdzab: 35)
Membayar zakat
merupakan kesempurnaan bagi puasa seseorang dan merupakan kewajiban dalam
Islam, juga keuntungan. Sebagaimana firman Allah,
“Perumpamaan
(nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan
Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir. Pada
tiap-tiap butir seratur biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang
Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
(Al-Baqarah: 261)
“Dan
perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan
Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka adalah superti kebun yang terletak di
dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat. Maka kebun itu menghasilkan
buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis
pun (telah cukup baginya). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.”
(Al-Baqarah: 265)
Mengingat
besarnya pahala dan manfaat zakat, hendaknya kita melakukan dengan penuh
keikhlasan. Selain untuk membersihkan harta, juga menjauhkan dari sikap bakhil
dan rakus. Zakat juga merupakan wujud kepedulian kita kepada orang lain yang
membutuhkan, serta membebaskan kita dari tanggungan dan ancaman dasyat, seperti
firman Allah,
“Sekali-kali
janganlah orang-orang yang bakhil terhadap harta-harta yang Allah berikan
kepada mereka sebagai karunia-Nya itu menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi
mereka. Sesungguhnya kebakhilan itu buruk bagi mereka. Harta yang mereka
bakhilkan itu akan dikalungkan di lehernya kelak pada hari kiamat. Dan
kepunyaan Allah-lah segala urusan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah
mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Ali Imran: 180)
Rasulullah
banyak memberi contoh amalan selama Ramadhan, termasuk mengisi waktu dengan
qiyam (berdiri untuk shalat) baik itu wajib ataupun sunnah. Adapun shalat
sunnah itu meliputi shalat tarawih ataupun shalat malam sebagaimana sabda Nabi,
“Barangsiapa
yang melaksanakan shalat malam bulan Ramadhan karena iman dan mengharap
balasan, maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lewat.”
Rasulullah
selalu menghidupkan hampir seluruh malamnya untuk beribadah, juga membangunkan
keluarganya untuk qiyamul lail. Terlebih di bulan Ramadhan. Bahkan disebutkan
dalam Shahih Muslim dari Aisyah ra, dia berkata,
“Yang aku
ketahui beliau shalat semalaman sampai menjelang pagi.”
Selain 3 amalan
utama di atas, Rasulullah juga mengisi Ramadhan dengan amalan-amalan shalih
lainnya. Tak ada waktu yang beliau lewatkan sia-sia. Terlebih di sepuluh hari
terakhir Ramadhan. Beliau juga melakukan i’tikaf karena mengharap lailatul
qadar, kita menyibukkan diri dengan ibadah, bermunajat dan memperbanyak dzikir
pada Allah.
Demikian
pulalah seharusnya kita dalam mengisi Ramadhan, menyibukkan hati dengan apa
saja yang bisa mendekatkan diri kepada-Nya, sehingga tidak ada yang tersisa
dalam hati selain Allah dan segala yang mendatangkan keridhaan-Nya.
Selain keutaman
Ramadhan dalam hal ibadah, pada bulan Ramadhan pula al-Quran diturunkan sebagai
petunjuk bagi umat manusia. Yaitu pada malam lailatul qadar. Hal ini disebutkan
dalam al-Quran,
“Pada bulan
Ramadhan yang diturunkan al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan
dari petunjuk, dan membedakan (antara yang hak dan yang batil), maka
barangsiapa yang hadir di antara kamu di bulan itu hendaklah ia berpuasa.” (Al
Baqarah: 185)
Keutamaan lain
Ramadhan adalah dibukanya pintu-pintu rahmat dan ditutupnya pintu jahanam, dan
para setan dibelenggu. Jika kita sudah memahami hal itu, tentunya akan segera
berlomba mengisi Ramadhan dengan amal kebajikan seraya mengharap pahala
berlipat seperti yang Allah janjikan. Juga memenuhi diri dengan taubat, sebab
pintu ampunan dibuka lebar. Semoga kita termasuk orang-orang yang dimudahkan
Allah meraih kebaikan Ramadhan dan semua keutamaan di dalamnya.
JANGAN
SIA-SIAKAN RAMADHAN
Barangsiapa
melewatkan waktu selama Ramadhan dengan sia-sia, sesungguhnya ia termasuk orang
yang merugi dalam perdagangannya dengan Allah. Ia melewatkan keberuntungan
besar berupa hadiah dari Allah.
Dari Abu Ja’far
Muhammad bin Ali z, secara marfu’ dari Nabi bersabda,
“Barangsiapa
menjumpai Ramadhan dalam keadaan sehat dan muslim lalu ia berpuasa pada siang
harinya, shalat pada sebagian malamnya, menahan pandangannya, menjaga
kemaluannya, lisan dan tangannya, menjaga shalat-shalatnya dengan berjamaah,
bersegera menuju shalat Jumat, maka sungguh dia telah berpuasa sebulan,
menyempurnakan pahala serta mendapatkan lailatul qadar, dan dia beruntung
dengan hadiah dari Rabb Tabaraka wa Ta’ala.”
Di antara
hadiah itu adalah ampunan besar. Sebagaimana kita tahu Ramadhan penuh dengan
ladang ampunan yang dibentang lebar, hingga Rasulullah mendorong umatnya untuk
memanfaatkan keberkahan itu dengan memohon ampunan dosa. Beliau n mengumpamakan
sekiranya dosa orang yang berpuasa seperti busa air laut, akan diampuni karena
besarnya kedudukan ibadah yang berkeberkahan itu.
Dari Abu
Hurairah ra, Nabi bersabda,
“Barangsiapa
yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan ikhlas, diampuni dosa-dosanya yang lalu
dan yang akan datang.”
Kerugian lain
atas orang yang menyia-nyiakan ibadah dan waktu selama Ramadhan, ia kehilangan
nikmat Allah berupa pembebasan dari api neraka, sebagaimana sabda Rasulullah
bahwa Allah berkenan membebaskan setiap muslim dari api neraka tiap-tiap malam
Ramadhan. Bagaimana Allah l akan membebaskan dari api neraka jika kita tetap
sibuk dengan maksiat dan lalai dari beribadah selama Ramadhan dan bulan lain?
Selain hal di
atas, Allah juga menyambut doa-doa orang yang berpuasa terlebih di malam-malam
yang mustajab, melipatgandakan pahala atas setiap kebajikan. Masihkah kita rela
kehilangan semua itu karena menyia-nyiakan kesempatan emas selama Ramadhan?
Tak hanya itu,
termasuk orang yang merugi, selama Ramadhan adalah mereka yang tidak
meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat. Begitulah, kebanyakan dari kita
berpuasa Ramadhan, tapi perbuatan kita tak jauh beda dengan saat kita berpuasa,
tetap saja bermaksiat dan tidak meninggalkan keharaman. Seperti berdusta,
ghibah, memfitnah, pergi ke tempat maksiat dan hal sia-sia lainnya.
Nabi bersabda,
“Barangsiapa
yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan masih juga melakukannya, serta
melakukan perbuatan-perbuatan bodoh, maka Allah tidak membutuhkan terhadap
puasanya, meskipun ia meninggalkan makan dan minumnya.”
Coba kita
tengok banyak dari saudara kita, meski berpuasa tetap menghabiskan waktunya
untuk nongkrong, mengumbar pandangan, tidak menjaga perut dari keharaman
makanan atau minuman, tetap mengikuti nafsu dan sebagainya. Padahal Allah
berfirman,
“Dan
sesungguhnya kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. Sesungguhnya pandangan, penglihatan, dan hati semuanya itu akan
diminta pertanggungjawabannya”. (Al-Isra’: 36)
Hal lain yang
seharusnya tak kita lupakan adalah dzikrul maut (mengingat kematian). Kematian
bisa mengintai kita kapan saja. Bila kita lalai bahwa kita akan mati, maka kita
akan menyia-nyiakan waktu, dan melalaikan ibadah. Lain halnya bagi orang-orang
yang mengingat maut. Mereka akan lebih bersemangat dalam kebajikan, termasuk
dalam memanfaatkan waktu selama Ramadhan, dan mengoptimalkan semua kesempatan
yang ada, baik di dalam atau di luar Ramadhan. Memang begitulah seharusnya,
karena kita tak pernah tahu, akankah kita bersua kembali dengan Ramadhan tahun
depan?
Semoga kita
termasuk orang-orang yang dimudahkan meraih berkah Ramadhan, dan memperoleh
keberuntungan berlipat di dalamnya serta tidak termasuk golongan orang-orang yang
merugi.
Daisadur dari:
http://www.majalah-nikah.com

No comments:
Post a Comment